Banyak kebiasaan manusia terbentuk tanpa disadari. Cara bereaksi terhadap stres, menunda pekerjaan, mudah menyalahkan diri sendiri, atau justru cepat mengambil inisiatif sering kali dianggap sebagai “sifat”. Padahal, dalam perspektif psikologi, kebiasaan perilaku berakar dari pola pikir yang berulang dan telah tertanam dalam jangka waktu lama. Pikiran yang terus diulang akan membentuk kebiasaan mental, yang pada akhirnya mempengaruhi emosi dan tindakan sehari-hari.
Pikiran sebagai Awal Terbentuknya Kebiasaan
Dalam psikologi kognitif, pikiran dipahami sebagai proses mental yang melibatkan penilaian, keyakinan, dan interpretasi terhadap pengalaman. Pikiran tidak muncul secara acak, melainkan terbentuk dari pengalaman masa lalu, pembelajaran sosial, serta nilai yang dianut individu (Walgito, 2010).
Ketika suatu pola pikir digunakan berulang kali, misalnya pikiran “saya tidak cukup mampu” pola tersebut menjadi otomatis. Otomatisasi inilah yang menjadi cikal bakal kebiasaan, baik dalam bentuk sikap, emosi, maupun perilaku.
Penguatan Pikiran Melalui Pengalaman Emosional
Pikiran yang berulang biasanya diperkuat oleh pengalaman emosional. Emosi yang menyertai suatu pikiran akan memperkuat jejaknya dalam memori. Menurut Sobur (2016), emosi berfungsi sebagai penanda psikologis yang membuat suatu pengalaman lebih mudah diingat dan diulang.
Sebagai contoh, ketika seseorang mengalami kegagalan dan menafsirkannya sebagai bukti ketidakmampuan diri, emosi kecewa atau malu yang muncul akan memperkuat pikiran negatif tersebut. Jika tidak disadari, pola ini akan terus berulang dan menjadi kebiasaan mental yang sulit diubah.
Dari Kebiasaan Mental ke Kebiasaan Perilaku
Pikiran yang telah menjadi kebiasaan mental akan mempengaruhi cara individu bertindak. Pikiran otomatis cenderung memicu respons cepat tanpa proses refleksi yang mendalam. Hal ini menjelaskan mengapa seseorang sering mengulang perilaku yang sama, meskipun menyadari bahwa perilaku tersebut tidak selalu membawa hasil yang diinginkan.
Semiun (2006) menyatakan bahwa penyesuaian diri individu sangat dipengaruhi oleh pola pikir yang menetap. Kebiasaan perilaku bukan semata hasil kemauan, tetapi refleksi dari cara individu memaknai dirinya dan lingkungannya.
Peran Lingkungan dalam Mempertahankan Kebiasaan
Lingkungan sosial turut berperan dalam mempertahankan atau mengubah kebiasaan pikiran. Pola asuh, budaya kerja, dan norma sosial dapat memperkuat pola pikir tertentu. Ketika lingkungan terus memberikan penguatan yang sejalan dengan pikiran lama, kebiasaan tersebut akan semakin mengakar.
Sarwono (2015) menjelaskan bahwa interaksi sosial memiliki pengaruh besar terhadap pembentukan sikap dan perilaku. Oleh karena itu, perubahan kebiasaan pikiran seringkali membutuhkan penyesuaian konteks lingkungan, bukan hanya usaha individual.
Menyadari dan Mengubah Akar Pikiran
Langkah awal dalam mengubah kebiasaan adalah menyadari akar pikiran yang mendasarinya. Kesadaran ini memungkinkan individu membedakan antara pikiran yang realistis dan pikiran yang bersifat otomatis atau bias. Proses refleksi membantu individu mempertanyakan kembali asumsi lama yang selama ini dianggap sebagai kebenaran.
Perubahan kebiasaan pikiran tidak terjadi secara instan. Diperlukan latihan, pengalaman baru, dan konsistensi untuk membentuk pola pikir yang lebih adaptif. Dengan mengubah cara berpikir, individu membuka peluang untuk membentuk kebiasaan baru yang lebih sehat secara psikologis.
Kebiasaan bukan hanya soal tindakan yang diulang, tetapi juga tentang pikiran yang terus dipelihara. Menelusuri akar pikiran yang menjadi kebiasaan membantu individu memahami mengapa ia bertindak dengan cara tertentu. Melalui pemahaman ini, perubahan tidak lagi dipandang sebagai upaya melawan diri sendiri, melainkan sebagai proses sadar untuk membangun kebiasaan yang lebih selaras dengan tujuan dan kesejahteraan hidup.
Percayakan asesmen karyawan Anda pada biro psikologi resmi Assessment Indonesia, pusat asesmen psikologi dengan layanan terbaik.
Daftar Pustaka
Azwar, S. (2017). Sikap manusia: Teori dan pengukurannya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Sarwono, S. W. (2015). Pengantar psikologi umum. Jakarta: Rajawali Pers.
Semiun, Y. (2006). Kesehatan mental 1: Pandangan umum mengenai penyesuaian diri dan kesehatan mental manusia. Yogyakarta: Kanisius.
Sobur, A. (2016). Psikologi umum. Bandung: Pustaka Setia.
Walgito, B. (2010). Pengantar psikologi umum. Yogyakarta: Andi.