Bagi banyak remaja, kehidupan sekolah tidak hanya tentang pelajaran dan nilai, tetapi juga tentang tekanan. Tugas yang menumpuk, ujian yang tak ada habisnya, serta ekspektasi tinggi dari orang tua dan guru sering kali membuat siswa merasa lelah, cemas, bahkan kehilangan motivasi. Kondisi ini dikenal sebagai stres akademik, yaitu perasaan tertekan ketika tuntutan belajar dirasa melampaui kemampuan diri. Namun di balik segala hiruk-pikuk rutinitas belajar, ternyata ada cara sederhana untuk membantu menenangkan pikiran melalui musik.
Terapi musik kini dikenal sebagai salah satu pendekatan psikologis yang efektif untuk mengatasi stres, terutama di kalangan remaja sekolah menengah. Musik yang dulunya hanya dianggap sebagai hiburan, kini terbukti memiliki kekuatan terapeutik yang nyata dalam menyeimbangkan emosi dan menurunkan ketegangan mental. Terapi musik sendiri merupakan bentuk intervensi psikologis yang memanfaatkan unsur musik seperti melodi, ritme, dan harmoni untuk membantu seseorang mencapai relaksasi dan kestabilan emosional. Ketika seseorang mendengarkan musik dengan kesadaran penuh, otak akan merespons melalui pelepasan hormon dopamin dan serotonin, dua zat kimia alami yang menciptakan rasa tenang dan bahagia. Karena itu, musik dapat menjadi media yang lembut namun kuat untuk menurunkan tingkat stres tanpa harus melalui prosedur rumit atau pengobatan medis.
Penelitian yang dilakukan oleh Nurul Fadillah dan Dwi Kartika Wulan Sari pada tahun 2021 di SMA Muhammadiyah 3 Tulangan membuktikan manfaat nyata terapi musik terhadap penurunan stres akademik siswa. Dalam penelitian tersebut, sekelompok siswa dengan tingkat stres ringan hingga sedang diminta mendengarkan musik instrumental bertempo lambat selama beberapa sesi. Hasil yang diperoleh sangat positif. Setelah menjalani terapi secara rutin, siswa menunjukkan penurunan tingkat stres yang signifikan. Mereka merasa lebih rileks, lebih mudah berkonsentrasi saat belajar, dan tidak lagi terlalu cemas menghadapi ujian. Beberapa bahkan mengaku tidur mereka menjadi lebih nyenyak dan suasana hati mereka membaik. Temuan ini memperkuat pandangan bahwa musik memiliki efek langsung terhadap sistem saraf manusia. Saat alunan lembut musik terdengar, detak jantung melambat, napas menjadi lebih teratur, dan pikiran pun mulai tenang.
Musik berperan sebagai jembatan antara tubuh dan jiwa, membantu seseorang keluar dari lingkaran stres yang selama ini membebani. Dalam konteks pendidikan, hal ini tentu sangat penting karena suasana hati dan kondisi psikologis yang baik berpengaruh besar terhadap prestasi belajar siswa. Terapi musik juga dapat diterapkan dengan mudah. Seseorang tidak perlu memiliki kemampuan khusus untuk menikmatinya. Cukup dengan menyiapkan waktu tenang, memilih musik dengan tempo lembut, dan mendengarkannya dengan kesadaran penuh, maka efek relaksasi dapat dirasakan perlahan. Musik klasik, instrumen piano, atau suara alam seperti gemericik air dan kicau burung sering digunakan karena terbukti membantu menurunkan kadar hormon stres.
Lebih dari sekadar hiburan, terapi musik merupakan bentuk self-care yang bisa dilakukan siapa pun, kapan pun. Ia membantu remaja belajar mengenali emosinya, mengatur ritme pikirannya, dan kembali menemukan keseimbangan batin setelah hari yang penuh tekanan. Sekolah dan orang tua sebaiknya mulai memberikan ruang bagi kegiatan semacam ini, karena menjaga kesehatan mental sama pentingnya dengan mengejar prestasi akademik. Apabila kamu ingin mengenali kondisi psikologis diri sendiri atau memahami potensi anak secara lebih mendalam, melakukan asesmen psikologi dapat menjadi langkah awal yang tepat. Pemeriksaan psikologis yang dilakukan oleh tenaga profesional membantu menemukan solusi yang sesuai dengan kebutuhan individu, termasuk dalam mengelola stres, kecemasan, dan potensi belajar.
Temukan layanan asesmen psikologi terbaik hanya di biro psikologi resmi Assessment Indonesia, mitra terpercaya untuk kebutuhan psikotes.
Sumber:
Fadillah, N., & Wulan Sari, D. K. (2021). Pengaruh Terapi Musik terhadap Penurunan Stres Akademik pada Siswa SMA Muhammadiyah 3 Tulangan. Jurnal Pendidikan dan Psikologi, 3(2), 45–53.