Dalam dunia pendidikan, permasalahan belajar bukan hanya soal kemampuan akademik, tetapi juga berakar pada kondisi psikologis siswa. Tekanan sosial, pengalaman traumatis, dan ketidakstabilan emosi sering kali menjadi hambatan besar bagi siswa untuk berkembang secara optimal. Untuk menghadapi kompleksitas ini, dibutuhkan pendekatan konseling yang menyeluruh, salah satunya adalah terapi eklektik dengan perilaku attending. Terapi eklektik merupakan pendekatan konseling yang menggabungkan berbagai teori dan teknik terapi untuk disesuaikan dengan kebutuhan unik setiap individu. Pendekatan ini tidak terpaku pada satu metode tunggal seperti terapi psikoanalisis, humanistik, atau kognitif, tetapi memanfaatkan kelebihan dari masing-masing pendekatan untuk menghasilkan strategi yang paling efektif.
Menurut penelitian Euis Haryani (2019) dalam Journal of Instructional Development Research, penerapan terapi eklektik dengan perilaku attending terbukti membantu siswa SMP Negeri 108 Jakarta yang mengalami berbagai gangguan emosional seperti trauma, kecemasan, hingga kesulitan beradaptasi di lingkungan sekolah. Hasilnya, setelah beberapa sesi konseling, siswa menunjukkan peningkatan signifikan dalam kestabilan emosi dan prestasi belajar. Dalam konseling, attending behavior berarti memberikan perhatian penuh, empati, dan penerimaan tanpa syarat terhadap klien. Sikap ini ditunjukkan melalui kontak mata, bahasa tubuh yang terbuka, serta ekspresi wajah yang penuh empati.
Guru bimbingan konseling atau psikolog yang menerapkan perilaku attending menciptakan suasana aman bagi siswa untuk terbuka dan menceritakan masalahnya tanpa rasa takut dihakimi. Melalui terapi eklektik dengan perilaku attending, siswa tidak hanya dibantu untuk menemukan solusi atas masalahnya, tetapi juga dilatih untuk memahami, mengelola, dan menenangkan diri sendiri. Inilah mengapa pendekatan ini disebut efektif dan fleksibel — karena mampu menyesuaikan diri dengan dinamika psikologis setiap individu.
Pendekatan ini tidak hanya relevan bagi siswa, tetapi juga bagi siapa pun yang mengalami stres, kecemasan, atau kesulitan dalam hubungan sosial. Dengan kombinasi teknik relaksasi, komunikasi terapeutik, dan dukungan emosional, terapi eklektik dapat:
-
Membantu individu memahami akar masalah psikologisnya.
-
Meningkatkan kemampuan menghadapi tekanan dan trauma.
-
Menumbuhkan rasa percaya diri dan harga diri.
-
Membentuk pola pikir dan kebiasaan baru yang lebih positif.
Pendekatan ini juga menjadi pengingat penting bagi para guru, orang tua, dan tenaga pendidik bahwa kesehatan mental siswa adalah fondasi keberhasilan belajar. Ketika emosi dan pikiran dalam kondisi seimbang, potensi akademik pun dapat berkembang maksimal.
Meski guru bimbingan konseling dapat memberikan bantuan awal, penanganan psikologis yang lebih mendalam sebaiknya dilakukan oleh tenaga profesional, seperti psikolog atau konselor berlisensi. Melalui asesmen psikologis yang tepat, seseorang bisa mendapatkan gambaran menyeluruh tentang kondisi mentalnya dan rekomendasi terapi yang sesuai.
Jika kamu ingin mengetahui lebih dalam tentang kondisi psikologismu, minat karier, atau potensi anak, melakukan asesmen psikologi di lembaga resmi adalah langkah yang bijak.
Temukan layanan asesmen psikologi terbaik hanya di biro psikologi resmi Assessment Indonesia, mitra terpercaya untuk kebutuhan psikotes. Assessment Indonesia siap membantu individu, pelajar, maupun perusahaan menemukan solusi psikologis yang akurat dan profesional.
Sumber:
Haryani, E. (2019). Efforts to Overcome Learning Problems through Eclective Counseling with Attending Behavior. Journal of Instructional Development Research, 1(1), 23–36. DOI: 10.30998/jidr.v1i1.237