Memuat...
31 January 2025 20:58

Apakah Psikologi Positif Sama dengan Toxic Positivity?

Bagikan artikel

Banyak dari kita mungkin sering mendengar berbagai istilah dalam psikologi, seperti gangguan psikologis, tetapi apakah kamu pernah mendengar istilah "psikologi positif"? Lalu, apakah psikologi positif sama dengan konsep "toxic positivity" yang belakangan ini sering dibicarakan?

Sebelum memahami lebih lanjut, mari kita pelajari dulu apa itu psikologi positif. Psikologi positif adalah cabang dari psikologi humanistik yang fokus pada pencarian makna hidup dan kebahagiaan. Psikologi positif tidak bertujuan untuk menggantikan atau mengobati gangguan psikologis, melainkan berfokus pada pemahaman dan pengembangan emosi positif serta kebahagiaan. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup manusia dengan memahami pengalaman positif yang mereka alami, baik secara ilmiah maupun praktis. Psikologi positif bertujuan untuk meningkatkan fungsi manusia dengan pendekatan ilmiah dan intervensi yang efektif guna mendukung perkembangan individu, keluarga, dan masyarakat.

Secara garis besar, psikologi positif dibagi ke dalam tiga tingkat, yaitu:

  1. Tingkat Subjektif
    Berhubungan dengan pengalaman individu yang bersifat positif, yang hasilnya hanya dapat dirasakan oleh individu tersebut, seperti kesejahteraan atau kepuasan hidup di masa lalu, kenikmatan saat ini (sensual pleasures), serta optimisme dan harapan untuk masa depan.

  2. Tingkat Individual
    Mencakup sifat-sifat positif dalam diri individu yang tidak hanya dirasakan oleh orang tersebut, tetapi juga oleh orang di sekitarnya. Contoh sifat ini termasuk kemampuan untuk mencintai, keberanian, membangun hubungan interpersonal yang baik, sensitivitas terhadap estetika, optimisme, serta sifat pantang menyerah dan memaafkan.

  3. Tingkat Komunitas
    Mengacu pada nilai-nilai dan institusi yang memandu manusia untuk menjadi individu yang lebih baik. Hal ini mencakup penerapan prinsip-prinsip seperti tanggung jawab, kepedulian terhadap sesama, altruisme, toleransi, dan etos kerja yang dapat memberi dampak positif pada banyak orang di komunitas.

Jika ketiga tingkat ini diterapkan dengan baik, maka individu akan dapat mengembangkan makna hidup dan kebahagiaan yang lebih besar.

Lantas, Apa Bedanya Psikologi Positif dan Toxic Positivity?

Tentu saja, kedua konsep ini sangat berbeda. Toxic positivity adalah kondisi di mana seseorang atau bahkan kelompok merasa terpaksa untuk selalu berpikir atau bersikap positif, sambil menanggapi atau menanggalkan perasaan negatif. Di sisi lain, psikologi positif tidak memaksa seseorang untuk terus berpikir positif. Sebaliknya, ia mendorong individu untuk mengenali dan meresapi emosi negatif yang mereka alami sebagai bagian dari proses untuk menemukan solusi dan akhirnya mencapai kebahagiaan.

Contoh kalimat yang sering terdengar dalam toxic positivity adalah, "Ayo semangat, berpikir positif, jangan sedih, itu tidak seberapa." Sedangkan dalam psikologi positif, ungkapan yang lebih sesuai adalah, "Kamu merasa sedih, ya? Bagaimana perasaanmu? Cobalah ungkapkan perasaanmu dengan jujur." Psikologi positif mengajarkan kita untuk merasakan dan memaknai emosi, bukan menghindari atau menolaknya. Dengan demikian, perbedaan utamanya terletak pada penerimaan emosi negatif sebagai bagian dari proses menuju kebahagiaan.

Dengan demikian, psikologi positif tidak melarang seseorang untuk merasakan kesedihan atau perasaan negatif lainnya. Sebaliknya, ia mengajarkan untuk memahami dan meresapi perasaan tersebut agar kita bisa mengatasi masalah, tumbuh, dan mencapai kebahagiaan dalam hidup.

Menarik bukan bagaimana psikologi dapat membantu kita memahami diri sendiri?

Sebagai bagian dari pusat asesmen Indonesia, biro psikologi Assessment Indonesia menghadirkan solusi asesmen psikologi dan psikotes online berkualitas tinggi untuk kebutuhan evaluasi yang komprehensif.

 

Bagikan